25
October

Madsanih: Warga Bea Cukai Butuh Sarana Pendidikan Bukan Taman!

Written by 
Published in Pendidikan

Jakarta - Alkisah, karena tidak disediakannya sarana ibadah oleh pengembang perumahan membuat warga Perumahan Komplek Bea Cukai di wilayah Sukapura, Cilincing, Jakarta Utara membangun masjid di lahan fasilitas sosial dan fasilitas umum milik pengembang PT Nusa Persada/PT Colorama Jaya. Masjid Baiturrahman pun akhirnya mulai dibangun pada tahun 1982.

 

Kemudian, karena sarana pendidikan pun tidak disediakan oleh pengembang, warga akhirnya membangun sarana pendidikan seperti Taman Kanak-kanak, Taman Pendidikan Alquran dan Madrasah Ibtidaiyah pada tahun 1993 dengan badan hukum Yayasan Amaliah Baiturrahman. Sarana pendidikan ini dibangun bersebelahan dengan Masjid Baiturrahman di atas lahan fasos dan fasum milik pengembang dengan luas lahan seluruhnya 1908 meter persegi.

 

Karena tuntutan warga akan pendidikan putra dan putrinya makin tinggi, kemudian dibentuklah Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Baiturrahman pada tahun 1999. Ke semua sarana pendidikan yang bernaung di bawah Yayasan Amaliah Baiturrahman telah mendapat izin penyelenggaraan Kepala Suku Dinas Pendidikan Dasar Kotamadya Jakarta Utara pada tanggal 2 Oktober 2002 dan Kepala Dinas Pendidikan Dasar DKI Jakarta pada 24 Januari 2003. Bahkan, sarana pendidikannya pun telah mendapat akreditasi A (Amat Baik) dari Badan Akreditasi Nasional Sekolah sejak 15 Nopember 2010.

 

Namun kini keberadaan sarana pendidikan di bawah naungan Yayasan Amaliah Baiturrahman terancam dibubarkan karena lahan fasos dan fasum yang mereka tempati rencananya akan dirubah menjadi taman oleh Pemda DKI Jakarta. Hampir 500 orang murid sekolah dasar, taman kanak-kanak dan taman pendidikan alquran yang tengah mengenyam pendidikan pun terancam putus sekolah. Sebanyak 24 orang guru dan staf pun kemungkinan besar akan menjadi pengangguran bila sarana pendidikan tersebut benar-benar akan dirubah fungsi menjadi taman.

 

Warga dan orangtua murid berharap agar Pemda DKI Jakarta tidak merubah fungsi sekolah tersebut menjadi sebuah taman. Bahkan, pengurus Yayasan Amaliah Baiturrahman bersedia membayar uang sewa lahan agar sekolah tetap berdiri dan bisa beroperasi sehingga lahan tidak dirubah fungsi menjadi taman.

 

Menurut kuasa hukum warga dan Yayasan Amaliah Baiturrahman, Madsanih Manong SH, persoalan ini tidak akan terjadi apabila pada awal membangun perumahan, pengembang juga membangun sarana ibadah dan sarana pendidikan. Berdasarkan surat Gubernur DKI Jakarta Nomor 3783/IX/1980, tanggal 1 September 1980, Perihal Surat Ijin Penunjukan Penggunaan Tanah seluas sekitar 15 HA yang terletak di Kelurahan Sukapura, Cilincing, Jakarta Utara. Dan berdasarkan surat tersebut, pengembang berkewajiban membangun dan membiayai prasana kota dan bangunan sosial serta bangunan kepentingan umum lainnya seperti sekolah rumah ibadah dan balai pengobatan.

 

 

"Ini semua bisa dikatakan karena adanya kelalaian dari pada pengembang yang tidak membangun sarana ibadah dan sarana pendidikan pada saat membangun perumahan tersebut. Kami berharap kepada Gubernur DKI Jakarta agar segera memproses pengajuan permohonan perubahan peruntukan di lahan fasos dan fasum tersebut dari taman menjadi sarana pendidikan dan sarana ibadah," terang Madsanih.



Read 586 times Last modified on Sunday, 15 January 2017 15:47
Rate this item
(0 votes)
Super User

Aliquam erat volutpat. Proin euismod laoreet feugiat. In pharetra nulla ut ipsum sodales non tempus quam condimentum. Duis consequat sollicitudin sapien, sit amet ultricies est elementum ac. Aliquam erat volutpat. Phasellus in mollis augue.

Website: www.youjoomla.com

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Surat Kabar Pijar Jakarta

WWW.PIJARJAKARTA.COM

Sosial Media

Silakan klik dan follow sosial media kami.

Facebook Twitter RSS Pinterest Dribbble Youtube

GPlus Flickr Blogger/ Vimeo Picasa Instagram